
Pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah mengalami tekanan cukup dalam sepanjang tahun berjalan. Sejumlah indikator yang sebelumnya menjadi pemberat pasar, mulai dari pelemahan rupiah, ekspektasi kenaikan suku bunga, hingga arus dana asing, mulai bergerak ke arah yang lebih konstruktif.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia yang digelar pada 4 September 2026. Dalam forum tersebut, Tae Yong Shim, Director PT Samuel Tumbuh Bersama, menilai bahwa peluang pemulihan IHSG mulai terbuka, meskipun investor tetap perlu mencermati sejumlah prasyarat utama sebelum pasar benar-benar kembali memasuki tren penguatan yang lebih solid.
Dalam paparannya bertajuk “Victory is just around the corner”, Samuel Tumbuh Bersama menyoroti bahwa IHSG secara historis kerap menunjukkan pola pemulihan berbentuk V-shaped recovery setelah mengalami penurunan tajam dalam dua dekade terakhir. Namun, pemulihan tersebut tidak berdiri sendiri. Ada dua faktor utama yang dinilai perlu bergerak ke arah positif, yaitu nilai tukar rupiah dan suku bunga.
“Pertanyaan utama investor saat ini adalah kapan IHSG bisa kembali rebound. Jika melihat sejarah, IHSG beberapa kali menunjukkan pemulihan berbentuk V setelah mengalami penurunan tajam. Namun, pemulihan tersebut membutuhkan prasyarat yang jelas, terutama dari arah rupiah dan suku bunga,” ujar Shim dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia.
Rupiah menjadi salah satu kunci utama. Samuel Tumbuh Bersama mencatat bahwa pelemahan rupiah tampaknya telah mencapai puncaknya pada semester pertama 2026. Berdasarkan konsensus Bloomberg yang dikutip dalam materi tersebut, rupiah diperkirakan menguat hingga 2028. Sebelumnya, USD/IDR sempat menyentuh Rp18.187 per dolar AS pada 8 Juni 2026, sebelum mulai bergerak lebih stabil.
Stabilisasi rupiah juga berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga. Dalam materi Samuel Tumbuh Bersama, analis mulai memperkirakan BI Rate tidak akan kembali naik hingga kuartal IV 2026, bahkan hingga 2027, dengan asumsi tekanan terhadap rupiah terus mereda. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun yang berada di sekitar 7% dinilai masih setara dengan negara-negara berperingkat BBB, namun secara teoritis dapat bergerak ke kisaran 6% jika memperhitungkan tingkat inflasi negara pembanding.
“Jika pelemahan rupiah sudah melewati titik terburuknya, maka alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi semakin lemah. Ini penting bagi pasar, karena rupiah dan suku bunga merupakan dua prasyarat utama untuk membuka jalan pemulihan IHSG,” ujar Shim.
Selain faktor makro, likuiditas domestik juga menjadi modal penting bagi pasar. Samuel Tumbuh Bersama mencatat uang beredar M2 Indonesia berada di Rp10.371 triliun, tumbuh 8% YoY. Angka tersebut mengindikasikan masih besarnya dana yang berpotensi bergerak ke pasar saham apabila sentimen investor membaik. Jumlah investor pasar modal juga telah melampaui 30 juta investor, menunjukkan basis investor domestik yang semakin besar.
“Kami melihat investor masih memiliki likuiditas yang cukup besar. Ketika sentimen mulai berbalik dan dana mulai bergerak kembali ke pasar saham, pergerakan harga dapat berlangsung cukup cepat,” ujar Shim.
Sinyal positif lain datang dari arus dana asing. Sejak Juni 2026, investor asing mulai kembali membeli obligasi dan saham Indonesia. Samuel Tumbuh Bersama menilai pelemahan dolar AS dapat mendorong rotasi dana ke aset emerging market, termasuk Indonesia. Meski Indonesia masih tertinggal secara year-to-date, IHSG tercatat menjadi salah satu pasar dengan kinerja terbaik pada periode 2H26 berjalan.
Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia juga mulai terlihat lebih menarik. IHSG memiliki trailing P/E sekitar 14,2 kali, mendekati level terendah 10 tahun di 12,5 kali dan berada jauh di bawah rata-rata 10 tahun sekitar 20,6 kali. Dengan valuasi yang lebih rendah dan proyeksi laba korporasi yang tetap kuat, Samuel Tumbuh Bersama melihat risiko kenaikan pasar mulai lebih besar dibandingkan risiko penurunan.
“Valuasi pasar saat ini sudah berada di level yang lebih menarik, sementara fundamental korporasi Indonesia masih solid. Dengan rupiah yang lebih stabil, ekspektasi suku bunga yang mereda, likuiditas domestik yang besar, dan asing mulai kembali masuk, kami melihat peluang pemulihan pasar semakin terbuka,” ujar Shim.
Di tengah perubahan tersebut, Samuel Tumbuh Bersama merekomendasikan investor untuk mulai mengurangi porsi kas dan kembali menyeimbangkan alokasi ke aset berisiko. Dalam materi tersebut, alokasi saham direkomendasikan sebesar 40%, fixed income 40%, emas 5%, kripto 10%, dan kas 5%. Untuk saham, preferensi diarahkan pada non-MSCI blue chips, sementara fixed income tetap difokuskan pada obligasi tenor pendek.
Selain pasar saham, Media Connect kali ini juga membahas dinamika aset digital. Samuel Kripto Indonesia menilai reli kripto pada Agustus 2026 bukan sekadar kenaikan harga biasa, melainkan fase repricing yang didorong oleh tekanan fiskal Amerika Serikat, akses melalui ETF, dan munculnya token dengan fondasi ekonomi yang lebih jelas. Dalam materi Crypto Market Outlook: The Repricing, defisit fiskal AS 2026 diproyeksikan mencapai US$1,8 triliun, sementara arus masuk bersih Bitcoin ETF pada Agustus mencapai sekitar US$3,5 miliar.
Bitcoin bergerak dari sekitar US$62.800 menjadi US$78.600 pada Agustus 2026, dengan return close-to-close sebesar 25,1%. Samuel Kripto Indonesia menilai arus dana ETF menjadi konfirmasi penting bahwa narasi makro telah berubah menjadi permintaan spot yang lebih terukur.
Pasar kripto juga dinilai tidak lagi bergerak sebagai satu tema besar yang seragam. Bitcoin diposisikan sebagai aset dengan narasi monetary scarcity, ETH dan SOL terkait network beta, HYPE mencerminkan economic output, sementara stablecoins dan RWA mulai berkembang sebagai financial rails. Pergeseran ini membuat investor perlu lebih selektif dalam membedakan aset yang memiliki utilitas dan mekanisme value capture dengan aset yang hanya bergerak karena sentimen.
Memasuki September, pasar kripto akan menghadapi sejumlah ujian penting, mulai dari data tenaga kerja AS, operasi buyback Treasury pada 9 September, rilis PPI dan CPI AS, hingga keputusan FOMC pada 15–16 September. Rangkaian data tersebut akan menentukan apakah repricing yang terjadi pada Agustus dapat berlanjut menjadi tren yang lebih kuat.
Samuel Sekuritas Indonesia is a leading Indonesian securities brokerage firm. Established in 1997, the firm has grown to become one of the most respected and trusted financial services companies in the country. With a wide range of services and products, Samuel Sekuritas Indonesia has become a trusted partner to many investors, both institutional and individual.
The company offers a variety of financial services, including equity, debt and derivative securities brokerage services, research and portfolio management, asset management and capital market services, as well as a range of other investment solutions. Samuel Sekuritas Indonesia is also a leader in providing financial education and training, and has established itself as a leading provider of investor relations services.
The company has a strong research capability and is committed to providing its clients with up-to-date and reliable market analysis and recommendations. It also has a team of experienced and knowledgeable professionals who are dedicated to providing quality service to its clients. As a result, Samuel Sekuritas Indonesia has become a preferred partner for many investors in Indonesia.
In addition to its financial services, Samuel Sekuritas Indonesia also offers a range of other services, such as corporate finance and advisory services, mergers and acquisitions, and venture capital.