
Pasar modal Indonesia masih bergerak di tengah tekanan sepanjang 2026. Sejumlah sentimen global dan domestik, mulai dari ketegangan geopolitik, arah suku bunga global, pelemahan rupiah, hingga isu MSCI, ikut memengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG. Namun, Bursa Efek Indonesia menilai fundamental ekonomi dan pasar modal Indonesia masih menunjukkan ketahanan.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Media Connect Samuel Sekuritas Indonesia yang digelar pada 7 Agustus 2026. Dalam acara tersebut, Fikrian Naufal H dari Research Division Bursa Efek Indonesia (IDX) memaparkan perkembangan ekonomi dan pasar modal Indonesia, termasuk kondisi makro, kinerja IHSG, likuiditas pasar, serta pertumbuhan investor.
Fikrian menjelaskan bahwa pasar global masih dibayangi sejumlah isu besar. Harga minyak mentah global tercatat naik 21% secara tahunan setelah tensi geopolitik kembali meningkat. Di Amerika Serikat, inflasi masih berada di level 3,7% YoY, sementara core PCE berada di 3,3% YoY, sehingga mendukung pandangan bahwa The Federal Reserve masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Pada saat yang sama, yield US Treasury yang masih berada di kisaran 4%–5% ikut memperketat kondisi keuangan global dan memberi tekanan pada aset negara berkembang, termasuk saham dan mata uang.
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari pelemahan rupiah dan arah kebijakan moneter. Menurutnya, rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 7,3% secara year-to-date hingga Juli 2026, sementara Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga kebijakan sebanyak tiga kali pada Mei–Juni 2026, dengan total kenaikan 100 basis poin menjadi 5,75%. Selain itu, pasar juga masih mencermati perkembangan MSCI setelah Indonesia’s Information Flow criterion diturunkan dari positif menjadi negatif dalam MSCI Accessibility Review pada 18 Juni 2026.
Meski demikian, IDX menilai kondisi fundamental Indonesia masih relatif baik. Jika dibandingkan dengan periode krisis sebelumnya, sejumlah indikator makro masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi tetap positif, inflasi berada dalam kisaran yang terkendali, rasio kredit bermasalah atau NPL masih berada di bawah ambang batas maksimum 5%, dan cadangan devisa tercatat sebesar US$145,59 miliar per Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan periode 1998, 2008, maupun 2020. Dari sisi suku bunga, posisi policy rate 5,75% pada Juli 2026 juga jauh lebih rendah dibandingkan level 60% pada 1998.
“Secara fundamental, kondisi Indonesia masih sangat baik. Jika dibandingkan dengan krisis 1998, posisi suku bunga saat ini masih jauh lebih terkendali. Tantangan memang ada, tetapi indikator makro Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ujar Fikrian dalam acara Media Connect.
Sepanjang tahun berjalan, IHSG sempat mencetak rekor tertinggi sebelum akhirnya terkoreksi. Dalam materi IDX, IHSG mencapai all-time high di level 9.134,80 pada 20 Januari 2026, sebelum turun ke 6.236,13 pada 31 Juli 2026. Tekanan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik, termasuk pembekuan rebalancing saham Indonesia oleh MSCI, penurunan outlook surat utang RI oleh lembaga pemeringkat, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pelemahan rupiah, hingga kenaikan BI Rate.
“Setelah sempat mencetak all-time high pada Januari, IHSG memang mengalami tekanan akibat kombinasi sentimen global dan domestik. Namun, kondisi saat ini juga membuat valuasi pasar menjadi lebih terdiskon. Ini yang perlu dicermati investor,” jelas Fikrian.
Pertumbuhan jumlah investor juga menjadi salah satu penopang penting bagi pasar modal Indonesia. Jumlah investor pasar modal meningkat dari 3,88 juta pada 2020 menjadi 30,06 juta pada Juli 2026. Sementara itu, investor saham melalui C-BEST meningkat dari 1,69 juta menjadi 10,03 juta dalam periode yang sama. IDX juga mencatat bahwa investor ritel telah menjadi engine sekaligus buffer pasar, dengan aktivitas investor yang tetap meningkat baik secara tahunan, bulanan, mingguan, maupun harian.
Dengan berbagai indikator tersebut, pasar modal Indonesia dinilai tetap memiliki fondasi yang kuat meskipun volatilitas belum sepenuhnya mereda. Tekanan global dan domestik masih perlu dicermati, tetapi pertumbuhan likuiditas, peningkatan jumlah investor, serta valuasi yang lebih menarik dapat menjadi faktor penting dalam membaca peluang pasar ke depan.
Samuel Sekuritas Indonesia is a leading Indonesian securities brokerage firm. Established in 1997, the firm has grown to become one of the most respected and trusted financial services companies in the country. With a wide range of services and products, Samuel Sekuritas Indonesia has become a trusted partner to many investors, both institutional and individual.
The company offers a variety of financial services, including equity, debt and derivative securities brokerage services, research and portfolio management, asset management and capital market services, as well as a range of other investment solutions. Samuel Sekuritas Indonesia is also a leader in providing financial education and training, and has established itself as a leading provider of investor relations services.
The company has a strong research capability and is committed to providing its clients with up-to-date and reliable market analysis and recommendations. It also has a team of experienced and knowledgeable professionals who are dedicated to providing quality service to its clients. As a result, Samuel Sekuritas Indonesia has become a preferred partner for many investors in Indonesia.
In addition to its financial services, Samuel Sekuritas Indonesia also offers a range of other services, such as corporate finance and advisory services, mergers and acquisitions, and venture capital.